MAKALAH
PERANAN KOMONIKASI
Dosen Mata Kuliah : Dian Lufia Rahmawati, M.Pd
KETERAMPILAN KOMONIKASI

Disusun Oleh :
KELOMPOK 3
ANNITA NIM
:13.23.014788
INTAN PURNAMA SARI NIM :13.23.014798
MERCY PIRMANDO NIM :13.23.014806
SAHLAN NIM
: 13.23.014795
UNIVERSITAS
MUHAMADIYAH PALANGKA RAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PGSD
2014
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT,
yang telah memberikan kami waktu, kesempatan dan juga ilmu dalam menyelesaikan
makalah ini. Dan tidak lupa kami ucapan terimakasih kepada Ibu Dian Lufia Rahmawati, M.Pd.
Dalam penyusunan makalah dengan kerja keras dan juga
bantuan dari berbagai pihak, kami berusaha untuk memberikan hasil yang maksimal
dalam menggali informasi. Walaupun didalam pembuatannya kami menghadapi
kesulitan dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kami
miliki. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini.
Oleh karena itu, kritik dan saran membangun sangat kami butuhkan untuk dapat menyempurnakannya
di masa mendatang.
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk
melengkapi tugas Keterampilan komonikasi dengan judul "PERANAN KOMUNIKASI” dengan
harapan dapat memberikan manfaat serta menambah ilmu pengetahuan dan semangat
bagi Mahasiswa.
Palangkaraya, 09 Maret 2014
Kelompok 3
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
............................................................................................. i
DAFTAR ISI
......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
......................................................................................................... 1
1.2. Rumusan
Masalah
................................................................................................... 1
1.3. Tujuan
...................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Peranan
Komunikasi
............................................................................................... 2
2.2. Pengertian
Komunikasi ................................................................................ 2
2.3. Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan
Pendidikan ............................. 2
2.4. Informasi Dan
Komunikasi Dalam Lingkungan Sosial ..................................... 3
2.5. Informasi Dan
Komunikasi Dalam Lingkungan Keluarga ................................. 4
2.6. Informasi dan
Komunikasi dalam Kelompok dan Organisasi ............................ 5
2.7. Informasi
Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Lembaga Informasi
Dan Perpustakaan
.......................................................................................
6
2.8. Informasi Dan Komunikasi
Dalam Lingkungan Media .................................... 6
2.9. Konsep
Yang Berkaitan Dengan Peranan ....................................................... 7
BAB III PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
...................................................................................................... 9
3.2 SARAN
...................................................................................................... 9
3.3. DAFTAR
PUSTAKA
............................................................................................. 10
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A Latar
Belakang
Pendidikan dan peranan komunikasi memiliki kaitan yang sangat erat, segala
sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan tidak akan dapat berjalan tanpa adanya
peranan komunikasi. Ketika seseorang belajar, berkomunikasi sangatlah penting
di dalam kehidupan sehari-hari meliputi berbagai macam faktor, yaitu faktor
internal dan faktor eksternal, dalam hal ini peranan komunikasi menjadi modal
utama dalam proses berlangsungnya pendidikan.
1. Rumusan Masalah
Adapun
Makalah ini disusun dengan rumusan masalah sebagai berikut ;
a)
Apa yang
dimaksud dengan Peranan
b)
Apa yang
dimaksud dengan Peranan Komunikasi
c)
Bagaimana proses
Peranan Komunikasi dalam Pendidikan
2.
Tujuan
Agar mahasiswa dapat membedakan peranan komunikasi dalam lingkup
internal dan eksternal. Agar mahasiswa dapat memanfaatkan fungsi komunikasi
tersebut dengan konseptual yang mudah dipahami sebagai perencanaan untuk
pencapaian aktivitas komunikasi yang baik.
BAB II
PEMBAHASAN
B. Peranan Komunikasi
Peranan Komunikasi berkaitan dengan status dari
elemen-elemen komunikasi, jadi bisa saja muncul dalam peranan komunikator,
pesan, media, komunikan, efek, konteks, dan peranan gangguan. Jadi ketika kita berbicara
komunikasi umumnya maka kita bicara tentang cakupan peranan sistem komunikasi
secara over all yang biasanya berawal dari pemrakarsa komunikasi yakni
komunikator, peranan ini terletak bagaimana komunikator dengan status tertentu
menjalankan fungsi mengelola elemen komunikasi yang lain agar peran itu sesuai
dengan statusnya.
1.
Pengertian
Komunikasi
Komunikasi
merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain,
dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia
itu adalah sebagai makluk sosial, di antara satu yang dengan yang lainnya
saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik.
2.
Informasi Dan Komunikasi
Dalam Lingkungan Pendidikan
Disebut juga dengan informasi kependidikan dan
komunikasi pendidikan, sebab terjadinya komunikasi memang di dunia pendidikan.
Pengertian lengkapnya memang tidak bisa dijelaskan hanya menggunakan
betasan-batasan ringkas saja, karena seperti pengertian komunikasi umumnya,
tidak mungkin dibuatkan definisinya secara ringkas, tunggal, dan tegas.
Komunikasi pendidikan pun demikian, meskipun dalam hal ini sudah disentuhkan ke
dalam bidang pendidikan.
Pendidikan merupakan proses yang panjang, yang
melibatkan banyak unsur seperti pendidik, administrator pendidikan, proses,
komunikasi, peserta didik, pesan-pesan atau informasi pendidikan, dan adanya
tujuan-tujuan yang dicapai dari proses pendidikan dimaksud. Itu untuk
pendidikan formal. Lantas kalau pengertian pendidikan di dalam keluarga, di
masyarakat, di pesantren, dan di lembaga-lembaga pendidikan luar sekolah
lainnya, tentunya tidak seperti itu unsur-unsurnya. Dan pengertiannya pun
menjadi berbeda.
Pada pelaksanaan pendidikan formal atau pendidikan
melalui lembaga-lembaga pendidikan sekolah, tampak jelas bahwa proses
komunikasi sangat dominan kedudukannya. Hal ini setidaknya tampak dalam proses
instruksional, yang dalam dunia pendidikan sampai saat ini masih menduduki
posisi dominan. Gambar pada halaman berikutnya menunjukkan proses pendidikan.
Di situ tampak bahwa pendidikan bukan sekadar mengajari anak-anak supaya
menjadi lebih baik, menjadi pintar, atau sekadar berkomunikasi dengan mereka
yang isinya memberi nasehat supaya mereka berperilaku baik. Namun sudah semakin
kompleks, karena melibatkan banyak unsur di dalamnya.
Tidak perlu disebut seberapa penting kedudukan
komunikasi dalam pendidikan. Yang jelas proses pendidikan memang sebagian besar
hanya bisa dilakukan melalui adanya proses komunikasi dan keterlibatan
informasi. Artinya, hampir tidak ada proses pendidikan yang tanpa melalui
komunikasi dan informasi. Orang menyampaikan pesan, mengajar, memberikan data
dan fakta untuk kepentingan pendidikan, merumuskan kalimat yang baik dan benar,
semuanya hanya bisa dilakukan dengan penggunaan informasi komunikatif.
Masalahnya adalah pada jenis komunikasi yang bagaimana
dan informasi jenis apa yang biasa dan sering digunakan untuk tujuan dan
menggarap bidang pendidikan. Jadi dengan kata lain adalah komunikasi yang
digunakan dalam lingkungan pendidikan, atau komunikasi pendidikan yang lebih
langsung mempunyai makna menyatu dalam pendidikan. Pengertian umumnya adalah proses
komunikasi yang dirancang atau dipersiapkan secara khusus untuk tujuan-tujuan
penyampaian pesan-pesan atau informasi pendidikan.
Berbeda dengan komunikasi untuk hal-hal yang lainnya,
komunikasi pendidikan mempunyai tujuan yang jelas, yakni untuk merubah perilaku
sasaran ke arah yang lebih berkualitas, ke arah positif. Komunikasi pendidikan
mempunyai tanggung jawab untuk itu, karena memang harus bisa dipertanggung
jawabkan pada akhir dari suatu proses yang dilaksanakannya, yakni melalui suatu
evaluasi hasil pendidikan. Jika hasil dari evaluasinya menunjukkan nilai yang
jelek, itu bukan semata-mata kekurangberhasilan peserta pendidikan dalam
mengikuti proses komunikasi pendidikan, melainkan juga menunjukkan kegagalan
komunikasi pendidikan yang disampaikan oleh komunikator pendidikan di lapangan.
Kalau siswa bodoh, bukan semata-mata siswanya yang tidak pandai, melainkan
gurunya yang tidak berhasil menyampaikan pesan-pesan pendidikan melalui
penggunaan proses komunikasi yang tepat. Dengan kata lain informasi pendidikan
yang disampaikannya tidak komunikatif, atau mungkin juga karena yang
disampaikan atau dikomunikasikannya bukan informasi pendidikan. Hal ini
demikian, sebab, bisa saja misalnya sang guru dalam menyajikan materi
pendidikannya terlalu tinggi tingkat penalarannya, mungkin juga tidak runtut
penyampaiannya, salah menggunakan metode komunikasi, salah memilih strategi,
kurang cocok menggunakan media komunikasi, dan sebagainya . Banyak kemungkinan
mengapa pendidikan tidak berhasil.
3.
Informasi Dan Komunikasi
Dalam Lingkungan Sosial
Dunia sosial sangat luas dan sangat abstrak jika tidak
dikonstruksikan dalam kasus-kasus kecil lebih dahulu, karena akan mengundang
banyak pertanyaan yang semakin merumit. Untuk mengetahui realitas sosial secara
utuh, orang sulit menjelaskannya secara bersama dan sekaligus, melainkan perlu
sepotong-sepotong, dan akhirnya dihubungkan satu sama lain menjadi suatu sistem
sosial yang terpadu.
Kita lihat sekali lagi gambaran ini dan bayangkan
saja. Seseorang pada suatu saat di suatu tempat, sedang sendirian. Kira-kira
sedang memikirkan apa dia. Mungkin saja dia sedang melamun, atau sedang
berpikir tentang utang-utangnya, atau sedang mencari hiburan, atau sedang
merencanakan kejahatan, atau sedang menunggu kawan, atau sedang gelisah, marah,
dsb. Dilihat dari segi kebutuhannya, dia mungkin saja sedang memikirkannya
bagaimana cara mendapatkan sesuatu yang diidam-idamkannya. Jika dilihat dari
aspek waktu, maka dia pun tidak terbebas dari pengaruh waktu tersebut.
Misalnya, jika tadi dia sedang sendirian pada pagi hari, maka pada siang dan
sore harinya tentu tidak sama apa yang dilakukannya atau apa yang dipikirkannya,
meskipun secara fisik sama-sama berdiam di tempat yang sama. Orang tidak bisa
berada dalam dua ruang dan atau waktu yang berbeda pada saat yang sama.
Gambaran tersebut hanya sekadar untuk menunjukkan
bahwa, hanya satu orang saja sudah cukup rumit untuk mengetahui hakekat orang
atau manusia secara tepat. Apalagi jika orang tadi sudah mengambil perannya,
seperti sudah berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan fisik
maupun lingkungan sosialnya. Katakanlah, misalnya dia sudah berhubungan dengan
orang lain, dengan satu orang, dua orang, tiga orang, dan seterusnya hingga
berpuluh orang dan bahkan dalam satu lingkungan masyarakat tertentu, seperti
satu RT, satu RW, satu kelurahan, satu kabupaten, dsb. Belum lagi jika
berinteraksinya dengan orang lain dalam suatu lingkungan organisasi sosial yang
mempunyai tujuan tertentu. Sangat rumit bukan?
Komunikasi dalam lingkungan sosial memang serumit
kondisi sosial dalam bayangan di atas. Namun uniknya, karena manusia itu
mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dan berbagi informasi, atau kemampuan
menggunakan lambang-lambang komunikasi, maka ikatan-ikatan interaksinya dengan
orang lain tadi pun bisa direkat. Terjadinya suatu kelompok dalam lingkungan
masyarakat sosial sedikit banyak karena andil komunikasi dan proses berbagi
informasi. Keluarga pun diawali oleh peristiwa komunikasi. Bukankah
terbentuknya keluarga kita asalnya dari peristiwa komunikasi? Dimulai dari
kontak pandang, lalu menaksir, dilanjutkan kepada melamar, dan akhirnya
terjadilah ikatan perkawinan. Semuanya dilakukan dengan komunikasi dan
pertukaran informasi. Atau setidaknya andil komunikasi dan informasi sangat
besar dalam hal ini.
Ikatan sosial yang lebih khas dan juga luas seperti
organisasi, lembaga, dan struktur sosial lainnya, hanya bisa efektif jika
direkat dengan komunikasi dan berbagi informnasi. Karena ikatan yang didasarkan
atas komunikasi adalah ikatan yang sangat demokratis. Setiap orang atau anggota
dalam suatu ikatan sosial tadi mempunyai kesempatan dan hak yang sama untuk
mengkomunikasikan gagasan atau pendapatnya.
4.
Informasi Dan Komunikasi
Dalam Lingkungan Keluarga
Di lingkungan keluarga, komunikasi juga sangat besar
kedudukannya dalam mempertahankan kelangsungan hidup keluarga yang
bersangkutan. Tanpa dibarengi dengan pelaksanaan komunikasi yang terbuka antar
anggota dalam suatu keluarga, dipastikan tidak akan terjadi keharmonisan di
dalamnya. Bahkan kegagalan-kegagalan dalam perkawinan di suatu keluarga,
sebagian besar karena tidak adanya informasi komunikasi yang terbuka. Salah
satu syarat utama untuk memahamkan orang lain dalam lingkungan keluarga adalah
komunikasi yang terbuka tadi. Masing-masing anggota keluarga saling membuka
diri atas hal-hal yang bisa menjadikan ketidaksejalanan anggota keluarga.
Dengan membuka diri tersebut, maka tiap anggota keluarga yang lain akan
memahami kemauan-kemauan dan gagasannya, sehingga jika pun terjadi hal-hal yang
berbeda, akan bisa dicari jalan keluarnya.
Dalam keluarga juga paling sering terjadinya proses
komunikasi dan informasi pendidikan. Bukankah pendidikan awalnya dari keluarga?
Sebagian besar manusia dididik awalnya di lingkungan keluarga. Segala perilaku
orang tua dan lingkungannya dalam keluarga, sepanjang anak-anak masih diasuh di
dalamnya, akan selalu mendapatkan proses pendidikan. Bentuk nyatanya adalah,
orang tua selalu memberi nasehat-nasehat tertentu kepada anak-anaknya, membuat
peraturan yang mengikat terhadap seluruh anggota keluarga, melindungi anak dari
hal-hal buruk dan pengaruh luar yang buruk, memberikan contoh bagaimana makan
yang baik, berbicara yang sopan, dan bertindak sesuai dengan aturan norma yang
berlaku, dsb. Itu semua menggambarkan proses pendidikan di dalam keluarga.
Tidak mungkin cukup halaman ini untuk memverbalkan
semua proses pendidikan dan juga komunikasi dan saling berbagi informasi yang
berlangsung di lingkungan keluarga. Itu tadi hanya sebagian kecil saja yang
dijadikan contoh untuk sekadar mengingatkan, bahwa proses pendidikan melalui
pelaksanaan komunikasi yang efektif dalam lingkungan keluarga, sangat banyak
variasinya. Mereka atau orang tua ada yang lebih menekankan kepada kerasnya
disiplin, ada yang lebih menekankan kepada aspek demokrasinya, dan ada juga
yang lebih menitikberatkan kepada kasih sayangnya.
Di dalam lingkungan keluarga memang tidak hanya
terjadi proses komunikasi pendidikan, melainkan juga masih sering terkait
dengan proses komunikasi lain seperti komunikasi massa (setidaknya sebagai
anggota audiens pemirsa), komunikasi sosial karena keluarga adalah lembaga
sosial yang terkecil di masyarakat, dan sebagainya. Namun demikian, pola
komunikasi keluarga tampaknya lebih dominan.
Informasi dalam lingkungan keluarga pun menyertai
kehadiran proses komunikasi, baik langsung ataupun tidak langsung. Seperti
halnya proses komunikasi, proses perjalanan informasi dalam lingkungan keluarga
selalu sejalan sebagai sertaan proses komunikasi. Bahkan, beragam informasi di
jaman sekarang sudah sedemikian banyak dan kompleks untuk dipilah-pilah mana
yang bersifat edukatif dan mana yang sebaiknya dihindari. Program-program
televisi, acara radio, kehadiran VCD dengan berbagai sajian komunikasi dan
informasi yang sering tidak sesuai dengan kondisi keluarga, juga turut
mempengaruhi proses perjalanan keluarga yang bersangkutan.
Sebagai anggota masyarakat, kita sama sekali tidak
mempunyai kekuatan apa-apa untuk menghadapi situasi seperti ini. Bisakah kita
melarang peredaran VCD-VCD yang sebarannya serta cara memperolehnya lebih mudah
dari membeli kacang goreng?. Bisakah kita melarang atau setidaknya mengatur
anak-anak kita atau saudara-saudara kita yang masih kecil untuk tidak menonton
acara siaran televisi tertentu yang sebenarnya bukan untuk konsumsi mereka?.
Bisakah kita sebagai orang tua atau setidaknya sebagai anggota masyarakat yang masih
peduli terhadap pendidikan keluarga, memantau anak-anak kita atau adik-adik
kita yang masih di bawah umur untuk tidak mengakses internet pada situs-situs
dewasa?. Semuanya serba sulit untuk ditangani. Sayangnya, informasi dalam
proses komunikasi seperti ini justru pada masa sekarang bak banjir bandang yang
tidak satupun orang bisa mencegahnya.
5.
Informasi dan Komunikasi dalam Kelompok dan
Organisasi
Komunikasi kelompok dan komunikasi organisasional
sebenarnya berbeda. Yang pertama lebih memusatkan diri pada peristiwa
komunikasi yang terjadi antar beberapa orang, baik yang terstruktur maupun yang
tidak terstruktur, sedangkan yang terakhir lebih dinamis sifatnya. Kelompok
yang sudah terstruktur dan sudah terorganisasikan secara tetap seperti tampak dalam
organisasi-organisasi sosial dan lembaga kemasyarakatan, biasanya
anggota-anggotanya relatif tetap dan terdaftar secara formal. Sedangkan pada
kelompok yang tidak terstruktur tadi, tidak selalu terdaftar secara formal.
Tiga orang yang tidak saling kenal bertemu di jalan,
dan mengadakan diskusi seadanya mengenai suatu kasus, juga termasuk ke dalam
komunikasi kelompok. Setidaknya itu jika dilihat dari segi jumlah orang yang
terlibat di dalamnya. Sementara itu organisasi, meskipun itu masih dalam
kategori kelompok yang relatif formal dan tetap fungsi-fungsinya, mereka sudah
banyak yang mengembangkan hubungannya dengan pihak lain, baik perorangan,
kelompok, maupun organisasi serupa di masyarakat. Pola hubungan dimaksud bisa dilakukan
dalam suatu jaringan komunikasi dan informasi. Apalagi sekarang, di mana media
komunikasi sudah sedemikian majunya. Melalui internet, seseorang, tanpa melalui
kelompok atau organisasinya, sanggup berkomunikasi dengan orang lain yang jauh
secara ruang dan juga waktu. Meskipun untuk yang terakhir ini proses
komunikasinya kurang bersifat interaktif, namun sebagian darinya sudah bisa
interaktif, seperti berkomunikasi menggunakan komputer dan internet, dan juga
telepon bergambar. Yang umum untuk saat sekarang adalah sekadar membaca buku,
atau menonton siaran televisi dan radio, baik siaran langsung atau siaran
tunda.
6.
Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Lembaga
Informasi Dan Perpustakaan
Dilihat dari aspek sosial dan komunikasi, perpustakaan
atau pusat-pusat dokumentasi informasi lain yang sejenis, bisa didudukkan
sebagai salah satu struktur sosial dalam masyarakat, lembaga, atau bahkan
proses dan organisasi. Dalam tulisan ini, perpustakaan atau lembaga pengelola
informasi sejenis lainnya didudukkan sebagai suatu subjek dan objek sekaligus,
yang di dalamnya bisa bermakna: proses, ilmu, seni, pusat koleksi, pusat
pelestarian, tempat, unit kerja, ruang, gedung, atau bahkan pusat pengolahan,
atau pusat pelayanan. Semuanya bisa, bergantung kepada cara pandang kita dan
bagaimana kita memperlakukannya.
Fungsi-fungsi komunikasi dan proses perjalanan
informasi dalam konteks ini sangat kental menyertainya. Bahkan hampir semua
bentuk dan hasil kegiatan perpustakaan, mempunyai tujuan untuk dikomunikasikan
kepada masyarakat seluas-luasnya. Orang mengklasifikasikan dan
mengorganisasikan informasi dan sumber-sumber informasi, tiada lain tujuannya
adalah untuk kemudahan pemanfaatannya oleh masyarakat luas. Katalog juga
disusun sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh masyarakat pengguna
informasi pada umumnya. Tidak ada aspek kegiatan dan proses kerja di
perpustakaan dan pusat-pusat informasi yang tidak melibatkan komunikasi di
dalamnya.
Dilihat dari segi kelembagaan, perpustakaan dan juga
pusat-pusat informasi dan dokumentasi lainnya dianggap sebagai unit kerja yang
bersama-sama dengan unit kerja- unit kerja lainnya di dalam lingkungan lembaga
penaungnya, turut serta menunjang pencapaian tujuan dari lembaga induknya
tersebut. Karena sebagai unit kerja, maka secara organisasi perpustakaan
terbagi ke dalam unit kerja-unit kerja yang lebih kecil. Dari sana maka
informasi yang ditanganinya pun menyesuaikan secara proporsional. Ada informasi
untuk bahan administrasi pengadaan, ada informasi untuk data peminjaman, dan
ada juga informasi yang dilayankan kepada pengguna luas.
Proses komunikasi dalam segala aspeknya terjadi di
lingkungan perpustakaan dan lembaga pengelola informasi dan dokumentasi ini.
Misalnya, di bagian referens terjadi proses komunikasi pendidikan dan antar
persona sekaligus, di ruang media terjadi proses komunikasi bermedia, dan di
bagian pelayanan peminjaman koleksi terjadi proses komunikasi antar persona.
Dan, secara umum, perpustakaan juga berfungsi sebagai lembaga layanan jasa
penelusuran informasi.
7. Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Media
Komunikasi dan media inilah yang tampaknya sampai saat
ini masih banyak dibicarakan orang, karena media sekarang sudah sedemikian maju
dan canggih. Melalui media komunikasi yang ada di hampir setiap rumah, kita
bisa melihat dunia luar. Peristiwa-peristiwa di luar kita setiap saat
ditayangkan melalui media televisi, majalah, surat kabar, film, internet, atau
media komunikasi lainnya.
Informasi dengan segala jenis dan sifatnya hampir
tanpa putus selama 24 jam sehari menerpa kita melalui saluran-saluran
komunikasi tadi. Sekarang acara televisi hampir 24 jam sehari. Radio pun
demikian, tidak pernah putus acara siarannya. Artinya kalau acara siaran radio
yang satu sudah tutup, maka kita bisa berganti dengan acara siaran radio yang
lainnya, baik radio yang tergabung dalam RRI (Radio Republik Indonesia) maupun
radio yang tergabung dalam PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional
Indonesia). Kalau radio siaran dalam negeri sudah tutup maka orang bisa beralih
gelombang dan mencari acara siaran radio asing. Tidak pernah putus sepanjang
waktu.
Dalam menonton atau mendengarkan radio seperti itu,
orang bisa menerima informasi tanpa henti. Proses komunikasi berlangsung tanpa
henti. Meskipun kita juga yang mengatur kapan akan melakukan proses komunikasi
dan transfer informasi melalui media komunikasi massa tersebut.
Komunikasi massa merupakan proses komunikasi yang
menggunakan media massa. Sementara itu media massa juga merupakan suatu sistem
sosial yang sudah melembaga. Artinya ia tidak berdiri sendiri. Ia bergantung
kepada banyak faktor, seperti faktor kebutuhan informasi dan komunikasi
masyarakat, faktor struktur sosial, faktor kebijakan, dan faktor ekonomi.
Semuanya turut menentukan proses dalam perjalanan media dimaksud.
Dari peristiwa hubungan antara manusia sebagai
komunkator, sebagai pengguna atau komunikan, atau sebagai organisasi penyaji
media, dan juga medianya itu sendiri, serta effek yang ditimbulkan antar
komponen tadi, sangat mungkin akan menjadikan peristiwa hubungan antar komponen
tadi menjadi semakin kompleks. Ilmuwan komunikasi dan sosial, juga pendidikan,
tidak lagi hanya mencari beberapa penggal effek saja dari semua kemungkinan
yang diakibatkan oleh interaksi antara media, lembaga masyarakat, dan orang
kebanyakan sebagai pengguna.
8. Konsep Yang
Berkaitan Dengan Peranan
a)
Fungsi
Fungsi
adalah seperangkat tugas (task) yang di lakoni oleh subjek
peran. Dengan kata lain, jika subjek peran adalah seorang komunikator maka
“fungsi komunikator” adalah menjalankan apa-apa yang harus di jalankan
komunikator sesuai dengan peranan komunikator, dlam komunikasi. Jika tidak ada
perincian tugas, maka sudah tentu tidak ada fungsi, jika tidak ada fungsi maka
komunikator pun tidak berperan.
b)
Tujuan
Tujuan
adalah apa yang harus atau yang di rencanakan untuk di capai dalam aktivitas
komunikasi. Tujuan ini dapat di capai manakala kita melaksanakan tugas-tugas
yang di rumuskan dalam fungsi. Jadi mperanan
komunikator(komunikasi) adalah menjalankan fungsi (seperangkat tugas) untuk
mencapai “apa” yang telah di rencanakan atau yang telah di tetapkan sebelumnya.
c)
Strategi
Suatu
metode, teknik atau cara komunikasi bekerja sehingga kita dapat mencpai tujuan
yang telah di tetapkan tersebut. Jika komuniktor ingin mencapai tujuan yang
ingin di rencanakan, maka dia akan menjalankan seperangkat tugas tertentu
(fungsi), dan untuk mempercepat, memperlambat, membuat efektik atau tdak
efektif, mendorong atau menghambat tercapainya tujuan maka komunikator
menetapkan strategi komunikasi.
Berdasarkan
uraian konseptual ini, maka konsep peranan, fungsi,tujuan dan strategi dapat
dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan, tabel pada halaman berikut ini dapat
membantu kita untuk memahami konsep-konsep ini.
Tabel
berikut menunjukan bahwa peranan dan fungsi komunikasi yang dirancang
komunikator adalah mengirim informasi, instruksi, menghubungkan, mendidik,
menerangkan, menghibur, persuasi, dan mempengaruhi itu akan diarahkan untuk
tujuan komunikasi yang sesuai, mengirimkan informasi agar komunikan mengetahui,
mengirimkan pesan yang mendidik agar komunikan mengerti, mengirimkan pesan yang
menghibur agar komunikan menikmati, mengirimkan pesan persuasif agar komunikan
berubah sikap. Pertanyaannya bagaimana cara supaya pesan-pesan komunikasi itu
dapat terkirim dan diterima diterima dengan baik. Jawabannya adalah dengan
menuyusn strategi komunikasi.
|
PERANAN DAN
FUNGSI KOMUNIKASI
|
STRATEGI
KOMUNIKASI
|
TUJUAN
KOMUNIKASI
|
|
·
Informasi
|
1.
Kualitas
Komunikator
|
·
Mengatahui
|
|
·
Perkenalan
|
2. Kualitas
Pesan
|
·
Mengetahui
|
|
·
Identitas diri
|
3. Ketepatan
Media
|
·
Mengatahui
|
|
·
Menyatakan
emosi
|
4. Segmentasi
Audiens
|
·
Merasakan
|
|
·
Pertahanan
diri
|
5. Merancang
Efek
|
·
Peringatan
|
|
·
Intruksi
|
6. Mengurangi
Gangguan
|
·
Mengetahui/
Melaksanakan
|
|
·
Persahabatan
|
7. Ketetapan
konteks
|
·
Kenyamanan
Batin
|
|
·
Menyetakan
hubungan
|
|
·
Menerima
|
|
·
Sosialisasi
|
|
·
Mengetahui
|
|
·
Menghibur
|
|
·
Menikmati
|
|
·
Mendidik
|
|
·
Mengerti
|
|
·
Navigasi
|
|
·
Ketepatan
|
|
·
Motivasi
|
|
·
Memutuskan
|
|
·
Mendukung
|
|
·
Minat dan
Bakat
|
|
·
Reproduksi
|
|
·
Pemerataan
|
|
·
Mempengaruhi
|
|
·
Perubahan
|
BAB III
PENUTUP
C. Kesimpulan
Dari uraian bab II di atas maka
penulis dapat disimpulkan, yaitu :
1. Komunikasi
merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain,
dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia
itu adalah sebagai makluk sosial, di antara satu yang dengan yang lainnya
saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik.
2. Tidak perlu disebut seberapa penting kedudukan
komunikasi dalam pendidikan. Yang jelas proses pendidikan memang sebagian besar
hanya bisa dilakukan melalui adanya proses komunikasi dan keterlibatan
informasi. Artinya, hampir tidak ada proses pendidikan yang tanpa melalui
komunikasi dan informasi. Orang menyampaikan pesan, mengajar, memberikan data
dan fakta untuk kepentingan pendidikan, merumuskan kalimat yang baik dan benar,
semuanya hanya bisa dilakukan dengan penggunaan informasi komunikatif.
3. Peranan
komonikasi dalam pendidikan bsa di dapat melalui media,pembelajaran, saling
intraksi antara satu orang dengan orang lain.
D. saran
Setelah
mempelajari materi Peranan komunkasi ini dapat kami sarankan
bahwa berbagai macam aktivitas meliputi dari peranan interaksi individu,
kelompok, dan masyarakat saling berkaitan. Sehingga dapat membentuk dan
menciptakan lingkungan pendidikan yang
kondusif
DAFTAR
PUSTAKA
Liliweri, Alo.
2011. Komunikasi serba ada serba makna, jakarta; Kencana Prenada Media Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar