Rabu, 29 April 2015

makalah

MAKALAH
PERANAN KOMONIKASI
Dosen Mata Kuliah : Dian Lufia Rahmawati,  M.Pd

KETERAMPILAN KOMONIKASI

logo ump.jpg
Disusun Oleh :
KELOMPOK 3
ANNITA                                              NIM :13.23.014788
INTAN PURNAMA SARI                 NIM  :13.23.014798           
MERCY PIRMANDO                        NIM :13.23.014806           
SAHLAN                                              NIM : 13.23.014795


UNIVERSITAS MUHAMADIYAH PALANGKA RAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PGSD
2014


KATA PENGANTAR

 Assalamualaikum Wr. Wb.

Kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kami waktu, kesempatan dan juga ilmu dalam menyelesaikan makalah ini. Dan tidak lupa kami ucapan terimakasih kepada Ibu Dian Lufia Rahmawati, M.Pd.

Dalam penyusunan makalah dengan kerja keras dan juga bantuan dari berbagai pihak, kami berusaha untuk memberikan hasil yang maksimal dalam menggali informasi. Walaupun didalam pembuatannya kami menghadapi kesulitan dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran membangun sangat kami butuhkan untuk dapat menyempurnakannya di masa mendatang.

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk melengkapi tugas Keterampilan komonikasi  dengan judul "PERANAN KOMUNIKASI” dengan harapan dapat memberikan manfaat serta menambah ilmu pengetahuan dan semangat bagi Mahasiswa.









Palangkaraya, 09 Maret 2014





Kelompok 3














i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ......................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ...................................................................................................  1
1.3. Tujuan ...................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Peranan Komunikasi ...............................................................................................              2
2.2. Pengertian Komunikasi ................................................................................ 2
2.3. Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Pendidikan .............................  2
2.4. Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Sosial ..................................... 3
2.5. Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Keluarga ................................. 4
2.6. Informasi dan Komunikasi dalam Kelompok dan Organisasi ............................ 5
2.7. Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Lembaga Informasi
       Dan Perpustakaan ....................................................................................... 6
2.8. Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Media .................................... 6
2.9. Konsep Yang Berkaitan Dengan Peranan ....................................................... 7
BAB III PENUTUP
3.1. KESIMPULAN ...................................................................................................... 9
3.2 SARAN ...................................................................................................... 9
3.3. DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................            10














                                                                        ii

BAB I
PENDAHULUAN
A Latar Belakang

Pendidikan dan peranan komunikasi memiliki kaitan yang sangat erat, segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan tidak akan dapat berjalan tanpa adanya peranan komunikasi. Ketika seseorang belajar, berkomunikasi sangatlah penting di dalam kehidupan sehari-hari meliputi berbagai macam faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal, dalam hal ini peranan komunikasi menjadi modal utama dalam proses berlangsungnya pendidikan.
1.      Rumusan Masalah

Adapun Makalah ini disusun dengan rumusan masalah sebagai berikut ;
a)      Apa yang dimaksud dengan Peranan
b)      Apa yang dimaksud dengan Peranan Komunikasi
c)      Bagaimana proses Peranan Komunikasi dalam Pendidikan

2.       Tujuan
Agar mahasiswa dapat membedakan peranan komunikasi dalam lingkup internal dan eksternal. Agar mahasiswa dapat memanfaatkan fungsi komunikasi tersebut dengan konseptual yang mudah dipahami sebagai perencanaan untuk pencapaian aktivitas komunikasi yang baik.






















BAB II
PEMBAHASAN

B. Peranan Komunikasi
            Peranan Komunikasi berkaitan dengan status dari elemen-elemen komunikasi, jadi bisa saja muncul dalam peranan komunikator, pesan, media, komunikan, efek, konteks, dan peranan gangguan. Jadi ketika kita berbicara komunikasi umumnya maka kita bicara tentang cakupan peranan sistem komunikasi secara over all yang biasanya berawal dari pemrakarsa komunikasi yakni komunikator, peranan ini terletak bagaimana komunikator dengan status tertentu menjalankan fungsi mengelola elemen komunikasi yang lain agar peran itu sesuai dengan statusnya.

1.      Pengertian Komunikasi
            Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain, dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagai makluk sosial, di antara satu yang dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik.

2.      Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Pendidikan

Disebut juga dengan informasi kependidikan dan komunikasi pendidikan, sebab terjadinya komunikasi memang di dunia pendidikan. Pengertian lengkapnya memang tidak bisa dijelaskan hanya menggunakan betasan-batasan ringkas saja, karena seperti pengertian komunikasi umumnya, tidak mungkin dibuatkan definisinya secara ringkas, tunggal, dan tegas. Komunikasi pendidikan pun demikian, meskipun dalam hal ini sudah disentuhkan ke dalam bidang pendidikan.

Pendidikan merupakan proses yang panjang, yang melibatkan banyak unsur seperti pendidik, administrator pendidikan, proses, komunikasi, peserta didik, pesan-pesan atau informasi pendidikan, dan adanya tujuan-tujuan yang dicapai dari proses pendidikan dimaksud. Itu untuk pendidikan formal. Lantas kalau pengertian pendidikan di dalam keluarga, di masyarakat, di pesantren, dan di lembaga-lembaga pendidikan luar sekolah lainnya, tentunya tidak seperti itu unsur-unsurnya. Dan pengertiannya pun menjadi berbeda.

Pada pelaksanaan pendidikan formal atau pendidikan melalui lembaga-lembaga pendidikan sekolah, tampak jelas bahwa proses komunikasi sangat dominan kedudukannya. Hal ini setidaknya tampak dalam proses instruksional, yang dalam dunia pendidikan sampai saat ini masih menduduki posisi dominan. Gambar pada halaman berikutnya menunjukkan proses pendidikan. Di situ tampak bahwa pendidikan bukan sekadar mengajari anak-anak supaya menjadi lebih baik, menjadi pintar, atau sekadar berkomunikasi dengan mereka yang isinya memberi nasehat supaya mereka berperilaku baik. Namun sudah semakin kompleks, karena melibatkan banyak unsur di dalamnya.

Tidak perlu disebut seberapa penting kedudukan komunikasi dalam pendidikan. Yang jelas proses pendidikan memang sebagian besar hanya bisa dilakukan melalui adanya proses komunikasi dan keterlibatan informasi. Artinya, hampir tidak ada proses pendidikan yang tanpa melalui komunikasi dan informasi. Orang menyampaikan pesan, mengajar, memberikan data dan fakta untuk kepentingan pendidikan, merumuskan kalimat yang baik dan benar, semuanya hanya bisa dilakukan dengan penggunaan informasi komunikatif.

Masalahnya adalah pada jenis komunikasi yang bagaimana dan informasi jenis apa yang biasa dan sering digunakan untuk tujuan dan menggarap bidang pendidikan. Jadi dengan kata lain adalah komunikasi yang digunakan dalam lingkungan pendidikan, atau komunikasi pendidikan yang lebih langsung mempunyai makna menyatu dalam pendidikan. Pengertian umumnya adalah proses komunikasi yang dirancang atau dipersiapkan secara khusus untuk tujuan-tujuan penyampaian pesan-pesan atau informasi pendidikan.

Berbeda dengan komunikasi untuk hal-hal yang lainnya, komunikasi pendidikan mempunyai tujuan yang jelas, yakni untuk merubah perilaku sasaran ke arah yang lebih berkualitas, ke arah positif. Komunikasi pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk itu, karena memang harus bisa dipertanggung jawabkan pada akhir dari suatu proses yang dilaksanakannya, yakni melalui suatu evaluasi hasil pendidikan. Jika hasil dari evaluasinya menunjukkan nilai yang jelek, itu bukan semata-mata kekurangberhasilan peserta pendidikan dalam mengikuti proses komunikasi pendidikan, melainkan juga menunjukkan kegagalan komunikasi pendidikan yang disampaikan oleh komunikator pendidikan di lapangan. Kalau siswa bodoh, bukan semata-mata siswanya yang tidak pandai, melainkan gurunya yang tidak berhasil menyampaikan pesan-pesan pendidikan melalui penggunaan proses komunikasi yang tepat. Dengan kata lain informasi pendidikan yang disampaikannya tidak komunikatif, atau mungkin juga karena yang disampaikan atau dikomunikasikannya bukan informasi pendidikan. Hal ini demikian, sebab, bisa saja misalnya sang guru dalam menyajikan materi pendidikannya terlalu tinggi tingkat penalarannya, mungkin juga tidak runtut penyampaiannya, salah menggunakan metode komunikasi, salah memilih strategi, kurang cocok menggunakan media komunikasi, dan sebagainya . Banyak kemungkinan mengapa pendidikan tidak berhasil.

3.      Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Sosial

Dunia sosial sangat luas dan sangat abstrak jika tidak dikonstruksikan dalam kasus-kasus kecil lebih dahulu, karena akan mengundang banyak pertanyaan yang semakin merumit. Untuk mengetahui realitas sosial secara utuh, orang sulit menjelaskannya secara bersama dan sekaligus, melainkan perlu sepotong-sepotong, dan akhirnya dihubungkan satu sama lain menjadi suatu sistem sosial yang terpadu.

Kita lihat sekali lagi gambaran ini dan bayangkan saja. Seseorang pada suatu saat di suatu tempat, sedang sendirian. Kira-kira sedang memikirkan apa dia. Mungkin saja dia sedang melamun, atau sedang berpikir tentang utang-utangnya, atau sedang mencari hiburan, atau sedang merencanakan kejahatan, atau sedang menunggu kawan, atau sedang gelisah, marah, dsb. Dilihat dari segi kebutuhannya, dia mungkin saja sedang memikirkannya bagaimana cara mendapatkan sesuatu yang diidam-idamkannya. Jika dilihat dari aspek waktu, maka dia pun tidak terbebas dari pengaruh waktu tersebut. Misalnya, jika tadi dia sedang sendirian pada pagi hari, maka pada siang dan sore harinya tentu tidak sama apa yang dilakukannya atau apa yang dipikirkannya, meskipun secara fisik sama-sama berdiam di tempat yang sama. Orang tidak bisa berada dalam dua ruang dan atau waktu yang berbeda pada saat yang sama.

Gambaran tersebut hanya sekadar untuk menunjukkan bahwa, hanya satu orang saja sudah cukup rumit untuk mengetahui hakekat orang atau manusia secara tepat. Apalagi jika orang tadi sudah mengambil perannya, seperti sudah berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Katakanlah, misalnya dia sudah berhubungan dengan orang lain, dengan satu orang, dua orang, tiga orang, dan seterusnya hingga berpuluh orang dan bahkan dalam satu lingkungan masyarakat tertentu, seperti satu RT, satu RW, satu kelurahan, satu kabupaten, dsb. Belum lagi jika berinteraksinya dengan orang lain dalam suatu lingkungan organisasi sosial yang mempunyai tujuan tertentu. Sangat rumit bukan?

Komunikasi dalam lingkungan sosial memang serumit kondisi sosial dalam bayangan di atas. Namun uniknya, karena manusia itu mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dan berbagi informasi, atau kemampuan menggunakan lambang-lambang komunikasi, maka ikatan-ikatan interaksinya dengan orang lain tadi pun bisa direkat. Terjadinya suatu kelompok dalam lingkungan masyarakat sosial sedikit banyak karena andil komunikasi dan proses berbagi informasi. Keluarga pun diawali oleh peristiwa komunikasi. Bukankah terbentuknya keluarga kita asalnya dari peristiwa komunikasi? Dimulai dari kontak pandang, lalu menaksir, dilanjutkan kepada melamar, dan akhirnya terjadilah ikatan perkawinan. Semuanya dilakukan dengan komunikasi dan pertukaran informasi. Atau setidaknya andil komunikasi dan informasi sangat besar dalam hal ini.

Ikatan sosial yang lebih khas dan juga luas seperti organisasi, lembaga, dan struktur sosial lainnya, hanya bisa efektif jika direkat dengan komunikasi dan berbagi informnasi. Karena ikatan yang didasarkan atas komunikasi adalah ikatan yang sangat demokratis. Setiap orang atau anggota dalam suatu ikatan sosial tadi mempunyai kesempatan dan hak yang sama untuk mengkomunikasikan gagasan atau pendapatnya.


4.      Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Keluarga

Di lingkungan keluarga, komunikasi juga sangat besar kedudukannya dalam mempertahankan kelangsungan hidup keluarga yang bersangkutan. Tanpa dibarengi dengan pelaksanaan komunikasi yang terbuka antar anggota dalam suatu keluarga, dipastikan tidak akan terjadi keharmonisan di dalamnya. Bahkan kegagalan-kegagalan dalam perkawinan di suatu keluarga, sebagian besar karena tidak adanya informasi komunikasi yang terbuka. Salah satu syarat utama untuk memahamkan orang lain dalam lingkungan keluarga adalah komunikasi yang terbuka tadi. Masing-masing anggota keluarga saling membuka diri atas hal-hal yang bisa menjadikan ketidaksejalanan anggota keluarga. Dengan membuka diri tersebut, maka tiap anggota keluarga yang lain akan memahami kemauan-kemauan dan gagasannya, sehingga jika pun terjadi hal-hal yang berbeda, akan bisa dicari jalan keluarnya.

Dalam keluarga juga paling sering terjadinya proses komunikasi dan informasi pendidikan. Bukankah pendidikan awalnya dari keluarga? Sebagian besar manusia dididik awalnya di lingkungan keluarga. Segala perilaku orang tua dan lingkungannya dalam keluarga, sepanjang anak-anak masih diasuh di dalamnya, akan selalu mendapatkan proses pendidikan. Bentuk nyatanya adalah, orang tua selalu memberi nasehat-nasehat tertentu kepada anak-anaknya, membuat peraturan yang mengikat terhadap seluruh anggota keluarga, melindungi anak dari hal-hal buruk dan pengaruh luar yang buruk, memberikan contoh bagaimana makan yang baik, berbicara yang sopan, dan bertindak sesuai dengan aturan norma yang berlaku, dsb. Itu semua menggambarkan proses pendidikan di dalam keluarga.

Tidak mungkin cukup halaman ini untuk memverbalkan semua proses pendidikan dan juga komunikasi dan saling berbagi informasi yang berlangsung di lingkungan keluarga. Itu tadi hanya sebagian kecil saja yang dijadikan contoh untuk sekadar mengingatkan, bahwa proses pendidikan melalui pelaksanaan komunikasi yang efektif dalam lingkungan keluarga, sangat banyak variasinya. Mereka atau orang tua ada yang lebih menekankan kepada kerasnya disiplin, ada yang lebih menekankan kepada aspek demokrasinya, dan ada juga yang lebih menitikberatkan kepada kasih sayangnya.

Di dalam lingkungan keluarga memang tidak hanya terjadi proses komunikasi pendidikan, melainkan juga masih sering terkait dengan proses komunikasi lain seperti komunikasi massa (setidaknya sebagai anggota audiens pemirsa), komunikasi sosial karena keluarga adalah lembaga sosial yang terkecil di masyarakat, dan sebagainya. Namun demikian, pola komunikasi keluarga tampaknya lebih dominan.

Informasi dalam lingkungan keluarga pun menyertai kehadiran proses komunikasi, baik langsung ataupun tidak langsung. Seperti halnya proses komunikasi, proses perjalanan informasi dalam lingkungan keluarga selalu sejalan sebagai sertaan proses komunikasi. Bahkan, beragam informasi di jaman sekarang sudah sedemikian banyak dan kompleks untuk dipilah-pilah mana yang bersifat edukatif dan mana yang sebaiknya dihindari. Program-program televisi, acara radio, kehadiran VCD dengan berbagai sajian komunikasi dan informasi yang sering tidak sesuai dengan kondisi keluarga, juga turut mempengaruhi proses perjalanan keluarga yang bersangkutan.

Sebagai anggota masyarakat, kita sama sekali tidak mempunyai kekuatan apa-apa untuk menghadapi situasi seperti ini. Bisakah kita melarang peredaran VCD-VCD yang sebarannya serta cara memperolehnya lebih mudah dari membeli kacang goreng?. Bisakah kita melarang atau setidaknya mengatur anak-anak kita atau saudara-saudara kita yang masih kecil untuk tidak menonton acara siaran televisi tertentu yang sebenarnya bukan untuk konsumsi mereka?. Bisakah kita sebagai orang tua atau setidaknya sebagai anggota masyarakat yang masih peduli terhadap pendidikan keluarga, memantau anak-anak kita atau adik-adik kita yang masih di bawah umur untuk tidak mengakses internet pada situs-situs dewasa?. Semuanya serba sulit untuk ditangani. Sayangnya, informasi dalam proses komunikasi seperti ini justru pada masa sekarang bak banjir bandang yang tidak satupun orang bisa mencegahnya.


5.       Informasi dan Komunikasi dalam Kelompok dan Organisasi

Komunikasi kelompok dan komunikasi organisasional sebenarnya berbeda. Yang pertama lebih memusatkan diri pada peristiwa komunikasi yang terjadi antar beberapa orang, baik yang terstruktur maupun yang tidak terstruktur, sedangkan yang terakhir lebih dinamis sifatnya. Kelompok yang sudah terstruktur dan sudah terorganisasikan secara tetap seperti tampak dalam organisasi-organisasi sosial dan lembaga kemasyarakatan, biasanya anggota-anggotanya relatif tetap dan terdaftar secara formal. Sedangkan pada kelompok yang tidak terstruktur tadi, tidak selalu terdaftar secara formal.

Tiga orang yang tidak saling kenal bertemu di jalan, dan mengadakan diskusi seadanya mengenai suatu kasus, juga termasuk ke dalam komunikasi kelompok. Setidaknya itu jika dilihat dari segi jumlah orang yang terlibat di dalamnya. Sementara itu organisasi, meskipun itu masih dalam kategori kelompok yang relatif formal dan tetap fungsi-fungsinya, mereka sudah banyak yang mengembangkan hubungannya dengan pihak lain, baik perorangan, kelompok, maupun organisasi serupa di masyarakat. Pola hubungan dimaksud bisa dilakukan dalam suatu jaringan komunikasi dan informasi. Apalagi sekarang, di mana media komunikasi sudah sedemikian majunya. Melalui internet, seseorang, tanpa melalui kelompok atau organisasinya, sanggup berkomunikasi dengan orang lain yang jauh secara ruang dan juga waktu. Meskipun untuk yang terakhir ini proses komunikasinya kurang bersifat interaktif, namun sebagian darinya sudah bisa interaktif, seperti berkomunikasi menggunakan komputer dan internet, dan juga telepon bergambar. Yang umum untuk saat sekarang adalah sekadar membaca buku, atau menonton siaran televisi dan radio, baik siaran langsung atau siaran tunda.


6.       Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Lembaga Informasi Dan Perpustakaan

Dilihat dari aspek sosial dan komunikasi, perpustakaan atau pusat-pusat dokumentasi informasi lain yang sejenis, bisa didudukkan sebagai salah satu struktur sosial dalam masyarakat, lembaga, atau bahkan proses dan organisasi. Dalam tulisan ini, perpustakaan atau lembaga pengelola informasi sejenis lainnya didudukkan sebagai suatu subjek dan objek sekaligus, yang di dalamnya bisa bermakna: proses, ilmu, seni, pusat koleksi, pusat pelestarian, tempat, unit kerja, ruang, gedung, atau bahkan pusat pengolahan, atau pusat pelayanan. Semuanya bisa, bergantung kepada cara pandang kita dan bagaimana kita memperlakukannya.

Fungsi-fungsi komunikasi dan proses perjalanan informasi dalam konteks ini sangat kental menyertainya. Bahkan hampir semua bentuk dan hasil kegiatan perpustakaan, mempunyai tujuan untuk dikomunikasikan kepada masyarakat seluas-luasnya. Orang mengklasifikasikan dan mengorganisasikan informasi dan sumber-sumber informasi, tiada lain tujuannya adalah untuk kemudahan pemanfaatannya oleh masyarakat luas. Katalog juga disusun sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh masyarakat pengguna informasi pada umumnya. Tidak ada aspek kegiatan dan proses kerja di perpustakaan dan pusat-pusat informasi yang tidak melibatkan komunikasi di dalamnya.

Dilihat dari segi kelembagaan, perpustakaan dan juga pusat-pusat informasi dan dokumentasi lainnya dianggap sebagai unit kerja yang bersama-sama dengan unit kerja- unit kerja lainnya di dalam lingkungan lembaga penaungnya, turut serta menunjang pencapaian tujuan dari lembaga induknya tersebut. Karena sebagai unit kerja, maka secara organisasi perpustakaan terbagi ke dalam unit kerja-unit kerja yang lebih kecil. Dari sana maka informasi yang ditanganinya pun menyesuaikan secara proporsional. Ada informasi untuk bahan administrasi pengadaan, ada informasi untuk data peminjaman, dan ada juga informasi yang dilayankan kepada pengguna luas.

Proses komunikasi dalam segala aspeknya terjadi di lingkungan perpustakaan dan lembaga pengelola informasi dan dokumentasi ini. Misalnya, di bagian referens terjadi proses komunikasi pendidikan dan antar persona sekaligus, di ruang media terjadi proses komunikasi bermedia, dan di bagian pelayanan peminjaman koleksi terjadi proses komunikasi antar persona. Dan, secara umum, perpustakaan juga berfungsi sebagai lembaga layanan jasa penelusuran informasi.

7.       Informasi Dan Komunikasi Dalam Lingkungan Media

Komunikasi dan media inilah yang tampaknya sampai saat ini masih banyak dibicarakan orang, karena media sekarang sudah sedemikian maju dan canggih. Melalui media komunikasi yang ada di hampir setiap rumah, kita bisa melihat dunia luar. Peristiwa-peristiwa di luar kita setiap saat ditayangkan melalui media televisi, majalah, surat kabar, film, internet, atau media komunikasi lainnya.

Informasi dengan segala jenis dan sifatnya hampir tanpa putus selama 24 jam sehari menerpa kita melalui saluran-saluran komunikasi tadi. Sekarang acara televisi hampir 24 jam sehari. Radio pun demikian, tidak pernah putus acara siarannya. Artinya kalau acara siaran radio yang satu sudah tutup, maka kita bisa berganti dengan acara siaran radio yang lainnya, baik radio yang tergabung dalam RRI (Radio Republik Indonesia) maupun radio yang tergabung dalam PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia). Kalau radio siaran dalam negeri sudah tutup maka orang bisa beralih gelombang dan mencari acara siaran radio asing. Tidak pernah putus sepanjang waktu.

Dalam menonton atau mendengarkan radio seperti itu, orang bisa menerima informasi tanpa henti. Proses komunikasi berlangsung tanpa henti. Meskipun kita juga yang mengatur kapan akan melakukan proses komunikasi dan transfer informasi melalui media komunikasi massa tersebut.

Komunikasi massa merupakan proses komunikasi yang menggunakan media massa. Sementara itu media massa juga merupakan suatu sistem sosial yang sudah melembaga. Artinya ia tidak berdiri sendiri. Ia bergantung kepada banyak faktor, seperti faktor kebutuhan informasi dan komunikasi masyarakat, faktor struktur sosial, faktor kebijakan, dan faktor ekonomi. Semuanya turut menentukan proses dalam perjalanan media dimaksud.

Dari peristiwa hubungan antara manusia sebagai komunkator, sebagai pengguna atau komunikan, atau sebagai organisasi penyaji media, dan juga medianya itu sendiri, serta effek yang ditimbulkan antar komponen tadi, sangat mungkin akan menjadikan peristiwa hubungan antar komponen tadi menjadi semakin kompleks. Ilmuwan komunikasi dan sosial, juga pendidikan, tidak lagi hanya mencari beberapa penggal effek saja dari semua kemungkinan yang diakibatkan oleh interaksi antara media, lembaga masyarakat, dan orang kebanyakan sebagai pengguna.


8.      Konsep Yang Berkaitan Dengan Peranan

a)         Fungsi

Fungsi adalah seperangkat tugas (task) yang di lakoni oleh subjek peran. Dengan kata lain, jika subjek peran adalah seorang komunikator maka “fungsi komunikator” adalah menjalankan apa-apa yang harus di jalankan komunikator sesuai dengan peranan komunikator, dlam komunikasi. Jika tidak ada perincian tugas, maka sudah tentu tidak ada fungsi, jika tidak ada fungsi maka komunikator pun tidak berperan.
b)      Tujuan

Tujuan adalah apa yang harus atau yang di rencanakan untuk di capai dalam aktivitas komunikasi. Tujuan ini dapat di capai manakala kita melaksanakan tugas-tugas yang di rumuskan dalam fungsi. Jadi mperanan komunikator(komunikasi) adalah menjalankan fungsi (seperangkat tugas) untuk mencapai “apa” yang telah di rencanakan atau yang telah di tetapkan sebelumnya.

c)      Strategi

Suatu metode, teknik atau cara komunikasi bekerja sehingga kita dapat mencpai tujuan yang telah di tetapkan tersebut. Jika komuniktor ingin mencapai tujuan yang ingin di rencanakan, maka dia akan menjalankan seperangkat tugas tertentu (fungsi), dan untuk mempercepat, memperlambat, membuat efektik atau tdak efektif, mendorong atau menghambat tercapainya tujuan maka komunikator menetapkan strategi komunikasi.

Berdasarkan uraian konseptual ini, maka konsep peranan, fungsi,tujuan dan strategi dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan, tabel pada halaman berikut ini dapat membantu kita untuk memahami konsep-konsep ini.

Tabel berikut menunjukan bahwa peranan dan fungsi komunikasi yang dirancang komunikator adalah mengirim informasi, instruksi, menghubungkan, mendidik, menerangkan, menghibur, persuasi, dan mempengaruhi itu akan diarahkan untuk tujuan komunikasi yang sesuai, mengirimkan informasi agar komunikan mengetahui, mengirimkan pesan yang mendidik agar komunikan mengerti, mengirimkan pesan yang menghibur agar komunikan menikmati, mengirimkan pesan persuasif agar komunikan berubah sikap. Pertanyaannya bagaimana cara supaya pesan-pesan komunikasi itu dapat terkirim dan diterima diterima dengan baik. Jawabannya adalah dengan menuyusn strategi komunikasi.


PERANAN DAN FUNGSI KOMUNIKASI
STRATEGI KOMUNIKASI
TUJUAN KOMUNIKASI
·         Informasi
1.      Kualitas Komunikator
·         Mengatahui
·         Perkenalan
2.      Kualitas Pesan
·         Mengetahui
·         Identitas diri
3.      Ketepatan Media
·         Mengatahui
·         Menyatakan emosi
4.      Segmentasi Audiens
·         Merasakan
·         Pertahanan diri
5.      Merancang Efek
·         Peringatan
·         Intruksi
6.      Mengurangi Gangguan
·         Mengetahui/ Melaksanakan
·         Persahabatan
7.      Ketetapan konteks
·         Kenyamanan Batin
·         Menyetakan hubungan

·         Menerima
·         Sosialisasi

·         Mengetahui
·         Menghibur

·         Menikmati
·         Mendidik

·         Mengerti
·         Navigasi

·         Ketepatan
·         Motivasi

·         Memutuskan
·         Mendukung

·         Minat dan Bakat
·         Reproduksi

·         Pemerataan
·         Mempengaruhi

·         Perubahan


BAB III
PENUTUP

C. Kesimpulan
Dari uraian bab II di atas maka penulis dapat disimpulkan, yaitu :

1.      Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain, dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagai makluk sosial, di antara satu yang dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik.
2.       Tidak perlu disebut seberapa penting kedudukan komunikasi dalam pendidikan. Yang jelas proses pendidikan memang sebagian besar hanya bisa dilakukan melalui adanya proses komunikasi dan keterlibatan informasi. Artinya, hampir tidak ada proses pendidikan yang tanpa melalui komunikasi dan informasi. Orang menyampaikan pesan, mengajar, memberikan data dan fakta untuk kepentingan pendidikan, merumuskan kalimat yang baik dan benar, semuanya hanya bisa dilakukan dengan penggunaan informasi komunikatif.
3.      Peranan komonikasi dalam pendidikan bsa di dapat melalui media,pembelajaran, saling intraksi antara satu orang dengan orang lain.
D. saran
Setelah mempelajari materi Peranan komunkasi ini dapat kami sarankan bahwa berbagai macam aktivitas meliputi dari peranan interaksi individu, kelompok, dan masyarakat saling berkaitan. Sehingga dapat membentuk dan menciptakan lingkungan pendidikan yang  kondusif

























DAFTAR PUSTAKA


Liliweri, Alo. 2011. Komunikasi serba ada serba makna, jakarta; Kencana Prenada Media Group.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar